#journey24
“Ada
hal unik yang ada di Palembang ”
Sebelum kita membahas bubur ayam dan model, gue mau cerita sedikit nih. Eh, btw jurnal kali ini pake lo-gue aja ya, kan mau curcol ..
Jadi, dua hari sebelum gue balik ke Bengkulu, gue mutusin untuk berpisah
sama Winda, yang udah dua tahun gak ketemu. Karena, kebetulan pada saat itu,
Winda juga ada urusan urgent yang gak bisa dia tinggal. Untungnya, Ifone
teman gue, nyuruh buat tinggal sama dia selama beberapa hari. Kita udah
berteman sejak kelas 5 SD-yang pada saat itu gue anak pindahan yang masuk ke
kelas dia, dan kebetulan dia lagi ngerjain studinya di perguruan tinggi yang ada di
Palembang.
Oke, kita balik ke cerita bubur ayam dan model. Kalau dihitung, gue udah
1 bulan di Palembang, and dont you know why? Selama 1 bulan itu juga, gue
mati-matian nyari bubur ayam sama model, susahnya minta ampun! Mungkin kalian
bertanya-tanya, “Aneh lu, model kan makanan khas Palembang, masa iya susah
banget nyarinya?” atau “Aelah, jauh amat lu makan bubur ayam di Palembang, Di
sawah lebar juga ada kali”.
Well..
Jadi, ada beberapa hal yang buat gue pengen banget makanan yang ada di ‘judul atas’. Pertama, bubur ayam yang gue maksud bukan bubur ayam biasa. Bukan juga bubur ayam ajaib ya, haha (ketawa dulu dong). Kedua, gak mungkin lah, udah jauh-jauh ke Palembang, tapi gak melipir nyari makanan khsanya, secara gue doyan banget makan.
Jadi, ada beberapa hal yang buat gue pengen banget makanan yang ada di ‘judul atas’. Pertama, bubur ayam yang gue maksud bukan bubur ayam biasa. Bukan juga bubur ayam ajaib ya, haha (ketawa dulu dong). Kedua, gak mungkin lah, udah jauh-jauh ke Palembang, tapi gak melipir nyari makanan khsanya, secara gue doyan banget makan.
Lanjut kita bahas yang pertama, bubur ayam. Gue pecinta bubur ayam dan
gue tim ‘diaduk’. Jadi, gue denger ada bubur ayam yang tersohor di
Palembang, “Pokoknyo lemak nian! Tiap malem rame teros, dak pernah sepi” [1]
kata teman gue. Auto gue tergiur sama bubur ayam itu. Lapak jualannya di
seberang pusat perbelanjaan Palembang Indah Mall (PIM), tempatnya strategis,
jadi mudah ditemuin. Selama sebulan, gue datang terus ke lapak bubur ayam itu,
tapi gue selalu kehabisan. Nah, karena gue masih ada waktu dua hari lagi di
Palembang, jadi gue ngajak Ifone buat makan bubur ayam yang udah gue incer itu.
Kenyataannya, pas gue dateng, sambil berharap gue jadi orang pertama yang
dateng, karena pada saat itu ada bapak-bapak yang baru ngebangun lapak jualannya.
Terus gue samperin, bapak-bapak ini bukan orang yang sama dengan orang yang
sebelumnya, dan kayaknya penjual sate (yang sebelumnya selalu gue tanya) lagi
libur, karena lapaknya gak ada.
“Nyari bubur ayam ya?” Tanya bapak –bapak tersebut.
“Iya pak” gue jawabnya pake semangat 45 woi haha
“Bubur ayamnya lagi libur, dari sebulan yang lalu, minggu depan baru
buka lagi”
Gilaaa…..!Jadi, gue diprank nih, kalo bubur ayamnya abis! Kebayangkan
gimana kesalnya gue? Fix, kalo Winda tau, pasti dia juga kesel, kita
berasa dibodohin.
Tapi, gue ikhlas kok…
Ohya, biasanyakan bubur ayam itu adanya pagi-pagi, pas jam sarapan doang,
malah gak sampe jam 11.00 WIB udah pada tutup. Uniknya kalo di Palembang,
tengah malem juga bisa makan bubur ayam. Sebenarnya, alasan gue ngebet banget
sama bubur ayam itu, karena kuahnya kuning. Gue sama Winda, udah
keliling Palembang cuma buat nyari bubur ayam kuah kuning, dan setiap ada yang
jualan, gue selalu turun dan nanya dulu sama penjualanya “Pak, mau nanya, bubur
ayamnya kuah kuning atau kuah item?” Nanya gitu terus, tapi jawabannya selalu
kuah item. Well.. gue belum beruntung.
Kita lanjut ke pembahasan model. kejadian ini hampir sebelas, dua belas
sama bubur ayam. Sama-sama keliling dari ujung ke ujung buat makan model. Tapi
model yang gue cari bukan model kuah kuning atau kuah item kayak bubur ayam.
Tapi, model yang gue cari adalah model yang di dalam lapaknya nyediain saos.
Biasanya, orang kalo makan bakso, model, tekwan, pokoknya makanan
berkuah, mereka punya selera yang beda. Ada yang suka kuah bening, yang pure
gak dikasih apa-apa dan ada yang suka kuah pedas manis dikasih kecap sama cabai.
Nah kalo gue masuk tim komplit, = dobel
kecap+dobel saos+ triple cabai haha
Jadi, ceritanya, setiap ada gerobak atau banner yang bacaannya
‘tersedia model, tekwa, pempek dll..’, gue nyamperin dan ngintip, ya sebenarnya
hal yang gue lakuin ini gak bagus untuk kalian contoh. Tapi posisi gue pada
saat itu, memposisikan diri biar gak kedistract weird sama orang, “ada
saos apa nggak ya” batin gue. Selama sebualan itu juga, gue gak nemuin
jualan model yang di dalam lapaknya menyediakan saos, gue juga heran kenapa. Menurut
gue aneh, cuma ada kecap, dan cabai. Lagi-lagi gue belum beruntung.
Sekian cerita dari gue, sory banget,
jurnal ke 24 ini beda dari yang lain, karena pada intinya gue cuma mau ngasih
tau dua hal itu aja, kalo di Pelembang, kalian bakalan mudah banget nemuin
jualan bubur ayam di malem hari, karena kebanyakan bukanya mulai dari sore
hari. Dan yang terakhir, fyi mungkin kalian gak akan nemuin jualan model
atau tekwan yang ada saosnya, meski kebanyakan di daerah kita (luar Palembang)
nyediain saos di lapak atau di warungnya. Gue juga bingung kenapa, mungkin kalo
ada yang tau, bisa kalian jawab di kolom komentar. Terima Kasih sudah membaca!
[Menarik untuk dibaca: Berkunjung Ke Rumah Limas: Mata Uang Indonesia]
[Menarik untuk dibaca: Berkunjung Ke Rumah Limas: Mata Uang Indonesia]
#journey23
“Masih ada yang ingat, dengan mata uang
Indonesia berwarna merah muda gelap yang ada gambar rumah adat Limas?”
Sumatera Selatan dikenal dengan nama Bumi Sriwijaya
yang menjadi lokasi berdirinya kerajaan Maritim. Sehingga banyak sekali koleksi
peninggalan sejarah yang ditempatkan di museum Balaputradewa seperti benda
etnografi, histografi, biologika, felologi, seni rupa dan lain-lain.
Lokasi museum
Balaputradewa terletak di jalan Srijaya Negara I, no. 288 kota Pelembang. Untuk
transportasi ke museum Balaputradewa, kalian bisa menggunakan ojek online atau
angkutan umum, nanti setelah tiba di pertigaan jalan Srijaya, kalian bisa jalan
kaki agar lebih hemat biaya. Tenang, jarak dari pertigaan menuju museum Balaputradewa hanya berjarak
300 meter, lumyanlah buat ngeluarin keringat.
Museum Balaputradewa buka pada hari Selasa s.d. Sabtu
pada jam 09.00 s.d. 15.00 WIB. Sedangkan untuk hari Minggu, dibuka mulai jam
08.00 s.d. 15.00 WIB, itu artinya museum ini tutup setiap hari Senin dan hari
libur Nasional. Harga tiket masuk ke dalam museum ini hanya dibandrol
Rp.1000/orang untuk anak-anak dan Rp.2000/orang untuk dewasa. Dengan harga
tiket yang super murmer, sayang rasanya jika ke Palembang tidak
mengunjungi tempat bersejarah ini.
Oh ya, lagi-lagi saya ditemani Winda, teman sekaligus tour guide yang
juga sudah menemani saya ke beberapa tempat di jurnal sebelumnya. Saya dan Winda
berangkat sedikit sore, karena sepulang dari museum Balaputradewa, kami berencana
“iseng” naik LRT di jadwal terkhir, artinya kami akan menikmati view kota
Palembang di malam hari. Setelah sampai di lokasi, kami langsung menuju gedung
utama untuk registrasi dan menulis daftar buku tamu.
Ketika
mamasuki gedung utama, kami langsung disambut dengan relief besar yang bercorak
emas dengan pintu masuk dan keluar di sisi kanan dan kirinya. Setelah melewati
pintu tersebut, kami langsung disambut kolam ikan berdiameter persegi panjang
yang dihiasi beberapa patung di tengahnya. Di sisi kanan dan kirinya terdapat
ruangan bersekat kedinasan budaya dan pariwisata yang kantornya satu tempat
dengan gedung utama.
Karena hari sudah sore, dan jam berkunjung
museum akan berakhir, jadi kami tidak bisa terlalu lama berbincang dengan salah
satu pemandu yang memberi kami wejangan dari pertanyaan saya.
Dalam museum Balaputradewa terdapat tiga ruangan
pameran, rumah Limas dan rumah Ulu. Ruang Pemeran I (masa pra sejarah) terdapat
banyak berbagai replika arca Megalith dan benda-benda pra-sejarah berupa
alat bercocok tanam yang terbuat dari batu seperti, kapak lonjong, mata panah,
batu pukul dan lain-lain. Untuk ruang Pameran II (masa pra kerajaan Sriwijaya)
terdapat benda-benda pra-kerajaan berupa fragmen, arca Budha, arca Hindu, alat
pengecoran logam, prasasti Kota Kapur, prasasti Kedukan Bukit, Kambang Unglen
I, Kambang Unglen II dan lain-lain. Sedangkan ruang Pameran III (masa kerajaan
Sriwijaya) terdapat koleksi keterampilan seperti kain tenun, batik, songket,
alat tenun, piringan hitam, pakaian, pedang dan lain-lain.
Setelah mengitari ketiga ruang Pameran, kami lanjut ke
rumah Limas yang mengarah ke bagian halaman belakang. Rumah Limas merupakan
rumah tradisional yang bersejarah sekaligus menjadi salah satu icon mata uang Indonesia. Rumah Limas
dibangun pada tahun 1830, pemilik pertamanya adalah Pangeran Syarif
Adurrahman Al-Habsi. Di dalamnya
terdapat sulur-suluran, yaitu motif bunga Pakis yang berarti kepemimpinan, motif
bunga Tanjung yang berarti ucapan selamat datang, dan motif pucuk Rebung yang
berarti siklus kehidupan. Ada juga piano keluaran Jerman yang masih menggunakan
senar dan berumur 1 abad lebih. Masih banya perabotan seperti meja, kursi,
lemari, lukisan etnografi dan lain-lain. Di bagian belakang rumah Limas,
terdapat jembatan kecil yang langsung menyambung dengan rumah rakyat biasa yang
dibangun pada tahun 1835 oleh Syarif Ali.
Di
bagian timur rumah Limas ada rumah Ulu yang merupakan rumah daerah Ogan
Komering Ulu. Rumah Ulu ini sering disebut sebagai rumah anti gempa. Karena
tiang penyanggah rumahnya bukan ditanam di dalam tanah, melainkan ditaruh di
atas tumpukan batu, jadi jika terjadi gempa maka rumah akan berayun, unik
juga ya. Rumah Ulu ini berfungsi sebagai rumah singgah, dimana di depannya
terapat patung sapi atau pedati yang berarti tempat singgah, atau yang lebih
kita kenal sekarang sebagai hotel. Model rumah seperti ini, sudah dibudayakan sejak
lama oleh orang-orang Jepang.
Dokumentasi:
RELIEF BESAR DI DEPAN PINTU MASUK
KOLAM IKAN YANG BERADA DI ANTARA
KANTOR DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
KANTOR DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
GALERI MELAKA SEBELUM RUANG PAMERAN I
TAMAN DI TENGAH PERKARANGAN MUSEUM
KUMPULAN KOLEKSI BARANG DI RUANG PAMERAN I, II, DAN III
#journey22
“Tradisi unik,pernikahan masal setiap tahun”
Kampung ini bernama Kampung Arab Al Munawwar. Kampung Arab AlMunawar terletak di kota Palembang, kampung di Sumatra Selatan yang unik. Bukan hanya karena tergolong tua, destinasi wisata ini nilai sejarahnya juga tak luput dari perhatian. Desa wisata yang terletak di tepi Sungai Musi yang disebut "Laot" atau laut oleh masyarakt, kampung ini memiliki banyak kejutan dan pesona. Di kampung ini terdapat berbagai keturunan diantaranya ada keturunan Assegaf, Al-Habsy, Al-Kaaf, Hasny, Syahab. Kampung yang menjadi pusat wisata ini pada tahun 2018 sempat diubah dengan menarik untuk menonjolkan wisata di daerah sana. Pada ajang Asian Games 2018 kampung ini dirubah untuk lebih memperkenalkan etnis dan budaya keturunan Arab di lingkungan masyarakam (Wikipedia)
Perjalanan kali ini, saya ditemani oleh Winda, yang sebelumnya menemani saya naik LRT naik LRT keliling kota Palembang. Sebelum menuju kampung arab Al Munawwar, saya meminta Winda untuk singgah sebentar ke Museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) dan Museum Mahmud Badaruddin II. Tidak lama, hanya sekedar mengumpulkan dokumentasi dan membaca sejarah yang tertera. Lokasi Monumen Perjuangan Rakyat dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II sangat strategis, dekat dengan jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Bundaran Air Mancur Palembang dan Masjid Agung Sultan Mahmud Baddaruddin II, sehingga mudah untuk disinggahi.
MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT
MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
Lokasi kampung arab Al Munawwar sangat mudah dijangkau, hanya berjarak 2,3 km dari Jembatan Ampera. Kalian bisa menggunakan becak, ojek online, angkutan umum ataupun estafet, lumayan buat ngurangin lemak wkwk. Bagi yang estafet tidak perlu khawtir jika kalian merasa bosan di tengah perjalanan karena, kalian akan melewati pasar Ilir 16 dan pasar Ilir 10 yang bisa kalian jajaki,
Biaya masuk kampung arab Al Munawwar hanya dibandrol Rp.5.000,-/orang, sangat cocok dikantong para backpacker nih! Selain sibuk jeprat-jepret sana sini, banyak yang bisa kalian dapat, mulai dari sejarah, tradisi dan kebudayaan. Hingga melihat rumah yang masih kokoh dari 300 abad lalu. Kalian juga bisa melihat sungai Musi, jembatan Ampera, jembatan Musi IV, kapal besar pengangkut batubara hingga perahu ketek yang bersileweran membawa penumpang.
DERMAGA BELAKANG KAMPUNG AL MUNAWWAR
HANYA INGIN BERI TAU, DIA SINGLE
Ketika memasuki perkampungan, kalian akan disambut dengan model bangunan yang rata-rata berbahan kayu dengan desain yang unik dan berjajar rapi, sehingga menambah suasana tradisional dari kampung ini. Banyak lorong-lorong yang menampakkan kesan klasik untuk spot mengebadikan foto. Di sepanjang jalan, banyak anak-anak yang sedang berkumpul dan bermain. Lalu kami menghampiri mereka dan mengajak berbincang dengan melontarkan pertanyaan rondem yang sederhana. Mareka pun ikut antusias dengan kedatangan kami. Warga kampung Al Munawwar benar-benar sangat ramah menyambut para pengunjung yang datang. Meskinpun sejauh ini, banyak yang tidak mau diajak berfoto, yah mungkin mereka menjunjung tinggi privasi.
INI HASIL FOTO DIAM-DIAM
Setelah puas mengelilingi perkampungan arab Al Munawwar, saya mencoba mencari narasumber dadakan yang bersedia menggali informasi untuk konten blog kali ini. Mawar (nama samara), seorang wanita paruh baya yang bersedia untuk saya jajahi beberapa pertanyaan. Namun, beliau menolak untuk perbincangan kami direkam, alhasil saya pakai teknik manual.
Kampung arab Al Munawwar ini sudah ada sejak 200-300 abad lalu, hingga kini ada lima keturunan yang menetap di sini. Ada satu tradisi yang sangat unik yaitu, mengadakan pernikahan masal setiap tahun sekali. Sayaratnya, tidak memperbolehkan anak perempuan menikah dengan pria luar kampung. Namun, untuk pria diperbolehkan menikah dengan perempuan luar kampung sebab, keturunan ayah sebagai keturunan arab sangat kental.
Kampung Al Munawwar juga memiliki makanan khas yaitu, nasi minyak dengan campuran kismis dan lauk pauk lainnya. Ada pula kesenian khas seperti gambus, mawaris tarian tradisional dan lainnya yang selalu diadakan ketika perayaan hari besar Islam.
#journey21
[Part 2]
Setelah mengetahui stasiun LRT apa
saja yang ada di Palembang, yuk kita simak tips gampang naik LRT!
1.
Bought A Ticket For Tap In
Hal pertama
yang harus dilakukan adalah membeli tiket, dengan cara mendatangi salah satu
stasiun, yang sudah saya jelaskan dijurnal sebelumnya: part 1. Biaya yang
dikeluarkan hanya Rp.5.000,-/orang untuk setiap 1 x pemberhentian. Tarif ini
berlaku untuk semua tujuan, kecuali tujuan stasiun DJK- stasiun
Bandar Udara. Jaraknya yang lebih jauh, menyebabkan biaya yang dikeluarkan sebesar
Rp.10.000,-/orang. Pembayarannya bisa menggunakan uang elektronik (e-money)
ataupun cash. Setelah tiket aman di tangan, kemudian tap in tiket
agar bias masuk ke peron stasiun. Jika ramai, auto harus sabar
mengantre:)
2.
Waiting For Time
Jika sudah tap
in tiket, kalian akan disambut oleh bangku khusus penumpang yang akan menemani
kalian menunggu kedatangan LRT. Jangan kaget jika tidak kebagian bangku,
namanya juga tempat umum, ya harus bergantian, si A duduk, si B berdiri, dan si
C baru tap in tiket, kemudian bergiliran, si A jadwal LRTnya on top, si
B akhirnya duduk, dan si C bergumam “Wih, gue mau duduk dimana nih!”
3.
Get
in And Have Fun U’r Journey
Setelah
menununggu di waitingroom, nanti akan ada informasi mengenai LRT yang baru tiba sesuai jadwal yang sudah
ditentukan dan siap membawa penumpang. Kemudian, naik ke peron atas menggunakan
eskalator. Setibanya, LRT yang baru datang akan menurunkan penumpang terlebih dahulu,
lalu memperbolehkan penumpang lainnya yang akan masuk. Jadi, siklus keluar
masuknya penumpang sangat penting untuk ketertiban dan keamanan bersama.
4.
Tap
Out u'r Ticket
Selama dalam
perjalanan, kalian harus tetap menyiman tiket LRT. Karena, tiket tersebut masih
akan digunakan untuk tap out ketika telah sampai di stasiun yang dituju.
Saat tiba, kalian akan melewati jalan yang sama seperti stadiun sebelumnya,
hanya saja kali melalui jalan turun. Kemudian, kalian akan melewati petugas
untuk tap out tiket.
That’s a
step fo use LRT!
Oh ya, kalian
tidak perlu khawatir jika mengalami kesulitan, karena akan ada banyak petugas
yang siap melayani, hanya saja jangan malu bertanya yaa. Menurut saya, LRT adalah
salah satu transportasi umum yang worth it untuk digunakan. Selain budget
yang hanya dibandrol 5000 sampai 10.000, fasilitas yang adapun sangat
mendukung kebutuhan seperti, toilet, mushola, lift, tangga darurat, eskalator, waiting
room dan tentunya ada trash box untuk saling menjaga kebersihan dan
kenyamanan bersama.
Dokumentasi
"JARANG-JARANGKAN NAMPAKIN MUKA?"
(btw jangan diliatin terus haha)
(btw jangan diliatin terus haha)
BOLAK-BALIK MAININ ESKALATOR
SAMBIL MENUNGGU JADWAL LRT SELANJUTNYA
GAMBARAN FASILITAS TOILET DI SETIAP STASIUN
"MONMAAP ADA IKLAN!"
#journey20
"Sekali jalan,dua,tiga tempat terlewati!!!"
Keliling Palembang, nggak usah pusing lagi buat nyari transportasi. Meski sudah banyak industri yang menyediakan jasa transportasi, rasanya kurang apdol jika tidak mencoba menggunakan Light Rail Transit (LRT) yang ada di Palembang. Pasti sudah tidak asing mendengan LRT, KRL dan MRT. Apa perbedaan dari ketiganya? Direpost dari m.detik.com
source: m.detik.com
Gimana, sudah tahukan perbedaan MRT, KRL dan LRT? Meski spesifikasinya hampir sama, tetapi mereka mempunyai operasional yang berbeda. Sesuai dengan jurnal perjalanan kali ini, ‘keliling Palembang naik LRT, apa bisa?’ Bisa bangeed!!! Saya akan rangkum dengan apik sehingga bisa berguna untuk kalian semua!
LRT (Light Rail Transit) yang ada di kota Palembang mempunyai 13 rute pemberhentian, sebagai berikut: Stasiun DJK-Stasiun Jakabaring, Stasiun Polresta, Stasiun Ampera, Stasiun Cinde, Stasiun Dishub, Stasiun Bumi Sriwijaya, Stasiun Demang, Stasiun Garuda Dempo, Stasiun RSUD, Stasiun Punti Kayu, Stasiun Asrama Haji dan Stasiun Bandara. Lalu, tempat apa saja yang bisa dikunjungi dengan menggunkan LRT?
1. Stasiun DJK dan Stasiun Jakabaring
Stasiun DJK adalah stasiun pertama dan juga terakhir dalam setiap pemberhentian. Letak stasiun Jakabaring hanya berjarak 1 km dari stasiun DJK, jadi saya gabungkan. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungin seperti, Tugu Prameswara, Jakabaring Sport city, stadium Glora Sriwijaya, masjid Cheng Hoo, danau Ski Air dan pusat perbelanjaan, OPI Mall.
2. Stasiun Ampera
Dari namanya saja sudah ‘ampera’, tentu saja ada icon kota Palembang yaitu, jembatan Ampera. Di dekat jembatan Ampera ada Monpera, Patung Belida, Pulau Kemaro, Masjid Agung Raya, Sungai Musi, pasar 16 Ilir, dan Benteng Kuto Besak [Berburu Kuliner di Benteng Kuto Besak]
3. Stasiun Cinde
Stasiun Cinde terletak di jalan Jendral Sudirman. Terkenal dengan sebutan Sudirman Walk, akan terlihat ramai ketika malam minggu. Mulai dari kalangan milenial hingga orang tua yang membawa buah hati mereka. Ada banyak bangku santai di sepanjang Sudirman Walk, tempat kuliner, pameran hingga pertunjukan para seniman dan komunitas anak muda.
4. Stasiun Bumi Sriwijaya
Pemberhentian stasiun Bumi Sriwijaya, mempertemukan dua pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota Palembang, yaitu Palembang Icon Mall (PI) dan Palembang Square Mall (PS).
5. Stasiun Punti Kayu
Kalau stasiun sebelumnya terdapat pusat perlanjaan, nah, stasiun Punti Kayu menyediakan tempat yang dapat menyejukkan mata, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu. Dilansir dari travelspromo.com, Taman Wisata Alam Punti Kayu ini merupakan hutan kota terbesar di dunia setelah hutan kota Islandia, dengan luas sekitar 50 hektar.
Punti Kayu menyuguhkan hamparan pohon pinus yang berjajar rapi, beragam koleksi satwa, wahana air dan bermain yang cocok untuk keluarga.
Will be continued...
#journey19
“Asik rasanya menikmati menu ‘berkuah’ sembari melihat lampu kota, jembatan Ampera dan sesekali ada lrt lewat diatasnya, dari bilik-bilik jendela perahu”
Siapa yang tidak tau Benteng Kuto Besak? sering disebut BKB, tempat berkumpul anak remaja pun sanak saudara yang kental dengan suasan Palembang. Letak Benteng Kuto Besak yang sangat strategis, membuat ramai pengunjung, bahkan setiap harinya. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sana, mulai dari berburu kuliner, pasar malam, wahana bermain anak, hingga menikmati icon kota Palembang, jembatan Ampera.
Source: https://images.app.goo.gl/GB1WCZE7YUqjbYMq9
GAK SEMPAT CKREK LANGSUNG, KARENA KEMARIN TEMPATNYA DI PAKAI EVENT
Benteng Kuto Besak tidak hanya memperlihatkan sungai Musi, jembatan Ampera, dan patung Ikan Belida yang menjadi icon BKB, tapi juga ada museum Sultan Mahmud Badaruddin II, yang menjadi nama bandar udara kota Palembang.
Perjalanan saya kali ini ditemani Winda, teman lama yang sudah dua tahun tidak bertemu. Fyi, ini pertama kalinya saya mengunjungi BKB, meski sering ke Palembang untuk pulkam. Benar saja, BKB mempunyai aura kuliner yang membuat saya nagih untuk datang lagi, lagi dan lagi.
SUASANA KERAMAIAN BKB
WARUNG TERAPUNG CEK MERRY
WARUNG TERAPUNG LAINNYA
Hari ini kali ke tiga saya ke BKB. Kalau dua hari yang lalu saya dan Winda kuliner di area BKB, kali ini saya menjajahi kuliner terapung yang ada di sepanjang sungai Musi. Akhirnya, kami menetapkan pilihan di warung terapung Cek Merry. Kami bergiliran menaiki perahu menggunakan papan panjang yang menghubungkan perahu dan dermaga kecil. Saat itu sungai Musi sedang pasang, karena beberapa hari ini memang terus diguyur hujan, membuat papan penghubung tidak bisa diam, sehingga harus berhati-hati agar tetap seimbang.
DAG-DIG-DUG SERRR..
SEKEDAR INTERMEZO (YG NGERTI AJA)
VIEW AMPERA DARI BILIK PERAHU
SUASANA DI DALAM WARUNG TERAPUNG
Ada banyak menu yang disediakan, mulai dari pempek, model, tekwan, lenggang, otak-otak dan masih banyak lagi. Soal rasa, jangan ditanya lagi, udah pasti enak! Asik rasanya menikmati menu ‘berkuah’ sembari melihat lampu kota, jembatan Ampera dan sesekali ada lrt lewat diatasnya, dari bilik-bilik jendela perahu. Ada sensasi berbeda ketika berburu kuliner terapung, makan sambil mengontrol keseimbangan tubuh dan mangkuk yang ada di depan wkwkw, tapi seru!
Will be continued....











































